|

Pelatihan Kerja Mandiri Sebagai Upaya Menekan Laju Urbanisasi Pasca Lebaran


Rabu, 05 Juli 2017 11:14 WIB | Oleh : Operator
Pagelaran akbar sebuah tradisi tahunan mudik lebaran baru saja selesai. Kini segera muncul persoalan lain yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota yang disebut sebagai Urbanisasi. Fenomena arus urbanisasi pasca lebaran merupakan hal yang lumrah terjadi setiap tahunnya. Arus balik lebaran identik dengan pendatang baru berbondong-bondong datang ke kota besar. Para pemudik berangsur-angsur meniggalkan kampung halaman dan kembali ke perantauannya seringkali dengan mengajak sanak saudara untuk bekerja di luar kota.

Khusus di wilayah Jawa Barat, kota-kota besar yang biasanya menjadi tempat tujuan para pendatang baru yaitu wilayah metropolitan Bodebek Karpur (Bogor, Depok, Bekasi, Karawang, Purwakarta) dan wilayah metropolitan Bandung Raya (Kota Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Kota cimahi). Banyak masyarakat desa yang pindah ke kota-kota besar karena daya tarik ekonomi dan harapan ingin memperoleh kesejahteraan. Hampir sebagian pendatang baru tersebut datang ke kota besar dengan alasan ingin mencari pekerjaan atau mengadu nasib disana. Faktor lain urbanisasi dilakukan oleh penduduk desa yaitu adanya anggapan bawah kehidupan dikota lebih mewah dan lengkap, banyak tersedianya lapangan pekerjaan di kota, tidak memiliki pekerjaan/pengangguran, tidak tersedianya lapangan kerja di desa dan terbatasnya sarana dan prasarana di desa.

Urbanisasi bagi para pendatang yang memiliki keterampilan dan kemampuan dapat memberikan pengaruh positif terhadap penyelesaisan beberapa masalah diperkotaan. Pada teorinya urbanisasi pada tingkatan tertentu dari sisi ekonomi justru akan menguntungkan kota tujuan urbanisasi. Karena, semakin meningkat persentase penduduk suatu kota maka semakin meningkatkan produk domestik bruto dan capaian indeks pembangunan manusia dari penduduk di kota itu. Namun sebaliknya, jika para pendatang hanya berbekal tangan hampa alias tidak memiliki kemampuan dan keterampilan apa-apa maka akan timbul berbagai masalah negatif yang akan terjadi. Diantaranya adalah sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan yang tersedia diperkotaan. Hal ini tentunya akan mengakibatkan meningkatnya angka pengangguran diperkotaan. Mereka yang tidak mendapatkan pekerjaan cenderung akan menetap dan melakukan berbagai macam cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga masalah lainpun bermunculan seperti meningkatnya angka kemiskinan, banyaknya pemukiman yang kumuh, banyaknya pengemis dan meningkatnya angka kriminalitas. Seperti disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang dikutip  dari berita resmi website jawa barat menyampaikan “Jangan ke kota jika hanya untuk mencari keuntungan. Karena persaingan di kota akan jauh lebih berat jika tidak memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan”.
(Ahmad Heryawan, 2017, http://www.jabarprov.go.id/index.php/news/23833/2017/07/03/Aher-Tanpa-Keahlian-Jangan-ke-Kota).
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulangi dampak negatif dari arus urbanisasi tersebut yaitu dengan memberikan pelatihan, pembekalan keterampilan dan mengembangkan wawasan pengetahuan arah minat tertentu bagi para pencari kerja atau masyarakat usia produktif di pelosok-pelosok daerah. Banyak fasilitas pelatihan pembekalan keterampilan yang diselenggarakan oleh Pemerintah melalui Organisasi Perangkat Daerah yang tersebar di seluruh Wilayah Kabupaten/Kota. Seperti di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat melalui Balai Pelatihan Kerja Mandiri memiliki komitmen dalam pengentasan pengangguran dan peningkatan produktivitas masyarakat jawa barat dengan adanya program pelatihan kerja mandiri.  Tujuan dari pelatihan kerja mandiri yaitu meningkatkan motivasi, pengetahuan, keterampilan, sikap dan jiwa wirausaha sekaligus mendorong tumbuh kembangnya kelompok usaha mandiri di Jawa Barat. Dari sini para pencari kerja dan masyarakat usia produktif dilatih keterampilan, pengetahuan dan sikap mental arah minat tertentu yang diantaranya adalah Las Listrik, Catering, Tata Boga, Otomotif dan lain sebagainya.

Berbekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki selama mengikuti proses pelatihan tersebut. Maka para pencari kerja akan memiliki kompetensi khusus yang dapat memenuhi kualifikasi yang disyaratkan didunia kerja. Sehingga ketika mereka datang ke kota-kota besar setidaknya sudah siap untuk bersaing di bursa kerja yang tersedia. Tidak hanya itu saja berbekal keterampilan yang dimiliki masyarakat juga  memiliki alternatif untuk mencipatakan kelompok-kelompok usaha mandiri yang mampu menyerap tenaga kerja baru di daerahnya. Menumbuhkan usaha mandiri dipedesaan sangat penting bagi perputaran roda perekonomian yang ada. Karena, pedesaan yang basis utamanya yaitu pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan jika dikelola dengan baik bisa menghasilkan nilai tambah ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakatnya. Kesejahteraan masyarakat akan meningkat dan pastinya banyak lapangan pekerjaan baru yang akan tersedia akibat dari digeliatkannya aktivitas ekonomi dipedesaan. Jika hal itu terjadi, maka masayarakat desa atau para pencari kerja yang berasal dari pelosok-pelosok daerah tidak perlu bersusah payah untuk mengadu nasib di kota besar. Cukup dengan mengembangkan potensi yang ada dengan merintis usaha mandiri di daerah, maka kebutuhan hidup dan kesejateraan akan dapat terpenuhi di daerahnya.
 
 
Kontributor : Moch. Wahyu Saputra
 
 

Komentar

Statistik Kunjungan


  Pengunjung Online   :   1
  Pengunjung Hari Ini   :   50
  Total Pengunjung   :   163867


Mobile Analytics

Jejak Pendapat


Bagaimana menurut pendapat anda tentang BPKM JABAR ini?
Bagus
Lumayan
Tidak

Kontak Kami


BPKM JABAR,
Jl.Soekarno - Hatta No.567
Bandung 40275, Indonesia
Telp/Fax : (022) 7303974
Email : balatrans@yahoo.co.id